Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, Indonesia di hancurkan melalui sistem yang jelas-jelas bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila. Sistem yang seharusnya berpihak pada rakyat, tapi malah menyengsarakan dan menghancurkan pondasi negara. Semuanya sudah masuk dalam sektor kehidupan, entah itu masuk ke wilayah ekonomi, perdagangan, pendidikan, atau kesehatan.
“Dalam segi kesehatan, saya sudah bersusah payah, tapi dirubah semuanya melalui sistem neo-liberalisme. Harus diwaspadai konspirasi dari sistem kenegaraan yang sudah terjadi lama sekali. Kita tahu, sistem zionis yang digunakan merupakan gerakan yang terselubung.”
Hasil dari neoliberalisasi adalah kehancuran bagi yang lemah dan kemenangan bagi yang kuat. Kita dipaksa bersaing dengan negara yang sudah merdeka ratusan tahun, bersaing dengan negara yang selalu mengeruk kekayaan bangsa, dan pada awal 2010 nanti, akan masuk wilayah FTA (Free Trade Area). “Di era perdagangan bebas ini, jelas akan semakin melemahkan bangsa indonesia. Semua produk asing akan masuk dengan bebas. Apakah rakyat kita mau seperti itu?” kata Siti Fadilah kepada Sabili saat membuka acara diskusi Kajian Zionis Internasional di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.
Lebih lanjut, Siti Fadilah mengatakan, banyak pejabat atau pembesar negara menandatangani kebijakan yang menguntungkan pihak asing, hampir 90% kekayaan alam sudah bukan milik kita, 90% bank yang ada juga bukan milik kita. Semuanya sudah dimiliki pihak asing. Sistem yang berjalan itulah yang menjadi gurita untuk menghancurkan Indonesia. Sementara, sistem neo-liberal yang sedang berjalan tidak bisa dirubah, padahal sebetulnya, kita bisa menolak atau tidak menggunakan sistem tersebut. Seperti Iran, Cina, yang tidak menggunakan sistem neo-liberal. Sistem ini tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia, kecuali jika sudah kuat dan terukur dalam segala bidang. “Gurita zionis masuk ke dalam dunia kesehatan dan pendidikan karena dua hal ini. Mengingat, dua sektor ini merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat.”
Dalam dunia pendidikan, misalnya, ada pemberlakuan BHP (Badan Hukum Pendidikan) pada perguruan tinggi. Dengan diberlakukannya otonomi kampus, telah membuka pintu masuk bagi asing untuk memberikan sokongan dana, disadari atau tidak, dana itu sebagian berasal dari zionis melalui tangan NGO atau negara asing. “Makna zionis jangan dipersempit hanya simbol atau agama, tapi lebih luas dalam aspek kehidupan,” kata Siti Fadilah. (Daniel Handoko)
- 01/02/2010 06:06 - Ahmad Y. Majdoubeh: Israels Silent War
- 28/01/2010 03:29 - Zionisme dan Sepakbola: Dari Paganisme ke Lapangan Hijau
- 25/01/2010 04:37 - Hendri Saparini: Kasus Bank Century Harus Dilihat Lebih Besar
- 22/01/2010 02:19 - Pluralisme
- 18/01/2010 06:54 - Habib Rizieq: Semestinya Umat Islam Saling Menguatkan
- 12/01/2010 05:21 - Daiyah Tangguh di Pasar Pauh Kambar
- 06/01/2010 08:11 - Berjuang Menegakkan Kebenaran
- 04/01/2010 23:13 - Implementasi Qanun Jinayat di Aceh
- 29/12/2009 06:54 - Toleransi Beragama Bukan Partisipasi
- 21/12/2009 02:48 - NU Menolak Radikalisme dan Liberalisme





