Wednesday
Sep 08th
Tampilan
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Berita Lintas Dunia Membongkar Kedok Penyelamat Iklim

Membongkar Kedok Penyelamat Iklim

E-mail Cetak PDF
Membongkar Kedok Penyelamat IklimSebutannya penyelamat iklim, didapat dari LSM pemerhati lingkungan kelas dunia. Tapi yang terjadi kemudian, mereka sama sekali tidak mempedulikan kesengsaraan khalayak ramai akibat perubahan iklim. Jika masuk bandara Copenhagen dan berjalan sepanjang lorong menuju jalan keluar, banyak sekali iklan perusahaan skala besar, mulai Shell, Siemens, Bayer dan lainnya. “Untuk energi masa depan, kita butuh mewujudkan pengelolaan karbon,” begitu bunyi salah satu iklan Shell, perusahaan minyak dan gas bumi raksasa dunia.

Tidak hanya itu. Di koran harian the COP 15 Post edisi 9 Desember 2009 tepat di halaman tujuh terpampang iklan sehalaman penuh. Tertulis di situ, “Bila berbicara tentang perubahan iklim, waktunya bagi kita untuk tidak berbicara tentang diri kita sendiri,” ungkap Mukhtar Kent, CEO Coca Cola. Setengah halaman dihabiskan untuk iklan milik WWF (World Wildlife Fund), LSM konservasi internasional yang mendorong upaya pelestarian global. WWF adalah lembaga yang bekerja di 100 negara di dunia yang berkampanye tentang Climate Saver atau para penyelamat Iklim pada COP 15 Copenhagen.

Masih ada dua lusin nama dan lambang korporasi, mulai pabrik semen dari Perancis - Lafarge, hingga perusahaan minuman. Mereka  yang disebut WWF sebagai penyelamat iklim baru saja memperpanjang kerjasamanya empat tahun ke depan, sebuah kerjasama yang sudah dimulai sejak 2000.

Dalam websitenya, Lafarge menyebutkan kerjasama ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon. Entah proyek apa saja yang hendak mereka kerjakan. Dan entah berapa karung uang yang mereka butuhkan untuk melaksanakannya. Yang jelas, oleh WWF Lafarge disebut sebagai salah satu penyelamat perubahan iklim.

Mengurangi emisi karbon?
Lafarge memiliki pabrik semen di Indonesia, PT Semen Andalas Indonesia di Aceh (PT SAI/Lafarge). Sekitar 99 persen saham PT SAI dimiliki Lafarge, perusahaan Semen terbesar kedua di dunia dari Perancis.

Pabrik mereka sempat terhenti akibat gelombang tsunami akhir 2004 silam. Pada 2006, PT SAI-Lafarge kembali melakukan rekonstruksi dan meningkatkan produksinya dari 1 juta ton menjadi 1,6 juta ton pertahun. Mereka lantas memperluas kawasan tambang, membangun pabrik, PLTU juga pelabuhan.

Warga di sekitar lokasi PT SAI/Lafarge, tak banyak tahu bahwa Lafarge sejak lama bekerja dengan WWF. Tapi warga 34 desa di kecamatan Lhok Nga dan Leupung, Aceh Besar, Provinsi Aceh tahu benar bagaimana sepak terjang Lafarge.

Pada 1 Desember lalu, perwakilan warga menggelar konferensi pers mendesak penutupan PT SAI/Lafarge. Tuntutan itu terkait dengan pelanggaran HAM PT SAI/Lafarge sejak awal operasinya pada 1982.

Lafarge berkontribusi terhadap kerusakan ekosistem dan keragaman hayati di Kawasan Karst Lhok Nga seluas 700 Hektar. Ini masuk dalam bagian ekosistem Ulu Masen. Penggalian bahan semen telah merusak daerah tangkapan air.

Di musim hujan, banjir kerap terjadi di Gua Pucuk Krueng, sejak perusahaan beroperasi. Pencemaran udara sudah menjadi langganan masyarakat, bahkan itu menjadi udara yang mereka hidup sehari-hari. Salah satu yang terasa, minimnya jarak pandang pengguna kendaraan yang melintas di pagi atau malam hari sepanjang ruas jalan Banda Aceh hingga Meulaboh dari titik Jembatan Krueng Raba Kecamatan Lhok Nga.

Bukti lainnya disebutkan Yulfan, jurubicara organisasi wakil masyarakat Komite Masyarakat Bersatu Kecamatan Lhok Nga dan Leupung, PT SAI/Lafarge menjadi penyebab tingginya angka penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan TBC di sekitar tambang dan pabrik semen. Penyakit ISPA juga meningkat 80 persen, peringkat tertinggi di Kecamatan Lhok Nga dibanding sebelum perusahaan beroperasi.

Warga desa Naga Umbang juga mengeluhkan runtuhnya sumber ekonomi utama mereka dari kebun cengkeh dan buah-buahan, yang tak mau  berbunga lagi sejak debu perusahaan mencemari kawasan sekitar. Ini juga menimpa lahan-lahan sawah. Padahal sebagian besar warga menggantungkan hidup pada bertani, berkebun, berdagang, dan nelayan. Air sawah, sumur, sungai, bahkan kebun mereka mengering airnya.

Suara ledakan dinamit yang dilakukan 2 kali sehari membuat  perempuan dan anak-anak trauma, karena kawasan itu juga kawasan konflik. Sumur dan rumah penduduk retak akibat blasting, dan longsoran bebatuan menutup sawah penduduk, yang jaraknya hanya 200 meter dari lokasi perusahaan.

Sebelum bencana Tsunami, PT SAI/Lafarge memproduksi semen 1 juta ton per  tahun, hanya dua persen yang memenuhi kebutuhan Aceh, selebihnya diekspor. Mereka akan meningkatkan produksinya hingga 1,8 juta ton dan telah membangun PLTU batubara berkekuatan 32 mega watt.

Sudah sepatutnya dipertanyakan mengapa Lafarge disebut penyelamat iklim, padahal  kehidupan warga sekitar Lhok Nga dan Leupung Aceh terdampak atas aktivitasnya? Mengapa dipromosikan sebagai penyelamat iklim padahal membangun PLTU baru berbahan bakar batubara, energi yang paling kotor dan berkontribusi utama terhadap pemanasan global dan perubahan iklim? Hanya WWF dan Lafarge yang bisa menjawab.

Mengomentari fenomena ini, Siti Maemunah, aktifis JATAM, mengatakan, Korporasi transnasional memang lihai mempermak muka perusak bumi menjadi penyelamat iklim. Bahkan terang-terangan - dengan bantuan para pendukungnya, mengarahkan upaya menjawab krisis iklim menjadi putaran bisnis baru, yang berbalik menguntungkan mereka, tanpa mengganggu bisnis lama.

Maemunah menambahkan, bertahun-tahun korporasi trans nasional menyiapkan diri untuk ajang Copenhagen, melobi pemerintah, untuk memastikan kepentingan mereka hadir dalam meja perundingan. Tidak main-main, tahun lalu saja, dalam acara COP 14 di Poznan Polandia, tercatat sedikitnya 1.500 pelobi industri datang, baik sebagai lembaga swadaya masyarakat ataupun delegasi resmi pemerintah. Pengaruh mereka adalah salah satu alasan mengapa pemerintah sulit mencari jalan keluar menyepakati jumlah pemotongan emisi.

Mereka mendorong skema Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism), kemudahan akses skema offset melalui perdagangan karbon global, pendanaan untuk  teknologi beresiko termasuk Carbon Capture Storage (CCS), nuklir dan agrofuel: bisnis yang dianggap paling menjanjikan, ditengah kesengsaraan warga dunia menghadapai dampak perubahan iklim.

Korporasi besar berkedok penyelamat perubahan iklim terus menjadikan warga dunia tumbal perubahan iklim agar dapat terus bertahan. Dan bisa jadi kita termasuk di dalamnya.

SABILI
Erdy Nasrul
Komen
Tambah Komen Cari
Tulis Komen..
Nama:
Email:
 
Keterangan:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:

 

Pilihan Bahasa

Arabic English Filipino French Malay Portuguese Russian Spanish

Radio Sabili 1530 AM

Perspektif Herry Nurdi

 

Usaha Meraih Derajat Sempurna dalam Ramadhan

Berada di bulan mulia, memanfaatkan secara maksimal dan meraih keutamaannya adalah kerinduan orang-o...

Resensi Buku

Perjuangan Muslim Patani
article thumbnailMembicarakan penindasan yang dialami oleh kaum Muslimin, kita selalu mengingat negeri-negeri yang...

Login

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Pengunjung Online

    Kami memiliki 80 Tamu online

    Wawancara Terkini

     

    SBY Ditunggu Di Gaza

    SBY Ditunggu Di Gaza Bagi Indonesia, masalah Palestina adalah utang sejarah yang be...

     

    Jadikan al-Qur’an Standarnya

    “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya,” (Riwaya...

    Lintas Dunia

     

    Tantangan Puasa di Alaska

    Muslim di Alaska melakukan sholat tarawih pada saat matahari masih bersinar terang, karena...

     

    Fast-a-thon, Program Belajar Puasa untuk Non-Muslim Amerika

    Fast-a-thon pertama kali diselenggarakan Asosiasi Pelajar Muslim University of Tennessee t...